PSS Sleman Nilai Dana Subsidi Liga 1 Tidak Ideal

PSS Sleman Nilai Dana Subsidi Liga 1 Tidak Ideal

PT LIB resmi menaikkan nominal dana subsidi menjadi Rp800 juta tiap bulannya. Namun, angka tersebut dinilai kurang ideal oleh PSS Sleman. Dana tersebut tidak cukup untuk menutup kebutuhan klub. Apalagi, kompetisi bakal digelar tanpa kehadiran penonton.

Seperti diketahui, PT LIB resmi telah menaikkan besaran dana subsidi. Awalnya, hak komersial klub tersebut senilai Rp520 juta perbulannya. Dalam lanjutan liga nanti, besarannya berubah menjadi Rp800 juta perbulan. Perubahan ini telah disampaikan dalam rapat virtual, Jumat (17/7) lalu.

Namun, nominal tersebut dinilai belum cukup oleh manajemen PSS. Hal ini sebagaimana disampaikan Direktur Operasional PSS, Hempri Suyatna. Ia menuturkan bahwa dana tersebut belum bisa menutup biaya operasional klub.

Regulasi pemangkasan separuh gaji pemain juga dianggap belum cukup. Menurut Hempri Suyatna, banyak biaya yang harus dikeluarkan klub. Terutama terkait kebutuhan klub untuk menerapkan protokol kesehatan.

Sebagaimana diketahui, klub memang diharuskan menerapkan protokol kesehata. Salah satu yang harus dilakukan adalah pelaksanaan tes kesehatan. Di Indonesia, tes kesehatan ini biayanya cukup mahal. Hal ini tentu bakal menjadi kendala tersendiri bagi klub.

“Secara hitungan kasar, biaya operasional klub dalam menjalani kompetisi tetap besar. Meski ada regulasi pemangkasan gaji pemain sebesar 50 persen,” ujar Hempri Suyatna, Rabu (22/7).

“Untuk menerapkan protokol kesehatan tentu juga membutuhkan biaya,” imbuhnya.

PSS Sleman Nilai Dana Subsidi Liga 1 Tidak Ideal

Pemasukan Tersendat

Hempri juga menjelaskan, PSS bakal menjalani lanjutan kondisi dengan compang-camping. Pasalnya, sumber pemasukan terbesar klub bakal tertutup. Sebab, seluruh sisa laga Liga 1 bakal digelar tanpa suporter.

Peraturan tersebut tentu bakal sangat merugikan kubu PSS. Selama ini, mayoritas pemasukan klub berasal dari penjualan tiket pertandingan. Hempri mengungkapkan separuh lebih kebutuhan tim ditopang oleh keuntungan penjualan tiket.

“Salah satu sumber pemasukan terbesar PSS adalah sektor penjualan tiket. Jika hal ini tidak ada, pendapatan kami tentu berkurang drastis,” ucap Hempri mengeluh.

“Lebih dari 50 persen pemasukan bersumber dari penjualan tiket pertandinga,” imbuh staf pengajar Fisipol UGM tersebut.

Dukung Tuntutan Dana Subsidi Rp1,2 M

Oleh sebab itu, Hempri mengatakan angka Rp800 juta tersebut belum ideal. Lantas, ia kemudian mendukung tuntutan dana subsidi Rp1,2 miliar. Nominal tersebut dinilai cukup untuk biaya operasional tim selama lanjutan kompetisi.

Seperti diketahui, beberapa tim memang menginginkan kenaikan hak komersial klub. Sebab, banyak klub yang bergantung kepada dana dari operator tersebut. Apalagi, bagi tim yang berasal dari luar Pulau Jawa. Mereka membutuhkan akomodasi lebih untuk berkompetisi di Pulau Jawa.

PSS Sleman Nilai Dana Subsidi Liga 1 Tidak Ideal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top