Bhayangkara FC Siap Tempur Meski Dana Sponsor Belum Turun

Bhayangkara FC Siap Tempur Meski Dana Sponsor Belum Turun

Bhayangkara FC menyatakan kesulitan mencairkan dana dari sponsor. Waktu persiapan yang mepet disinyalir menjadi penyebab persoalan tersebut. Meski demikian, Bhayangkara FC mengaku siap untuk kembali berlaga.

Liga 1 2020 rencananya bakal kembali digeber bulan September mendatang. Namun, rencana tersebut mendatangkan masalah tersendiri bagi Bhayangkara FC. Waktu persiapan yang mepet membuat the Guardian kesulitan mencairkan dana sponsor.

Pengakuan ini disampaikan Chief Operating Officer (COO) Bhayangkara FC, Kombes Pol. Sumardji. Menurutnya, saat ini, dana sponsor merupakan satu-satunya masalah tim.

“Kami bingung mau mengatakan apa. Masalah kami sebenarnya ada di sponsor,” ujar Sumardji.

“Kalau liga dilanjutkan bulan September atau Oktober, kami kesulitan mau minta dana ke sponsor. Waktunya terlalu mepet. Jadi posisi kami sekarang cukup sulit,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Kapolresta Sidoarjo tersebut.

Mengaku Siap Tempur

Namun, persoalan tersebut tidak membuat Bhayangkara FC mundur dari Liga 1. Sumardji mengatakan bahwa timnya siap tempur di lanjutkan kompetisi.

“Jadi posisi kami memang sulit. Namun, kalau PSSI meminta liga kembali berjalan, kami ada dalam bagian liga itu,” kata Perwira dengan melati tiga di pundaknya itu.

Bhayangkara FC Siap Tempur Meski Dana Sponsor Belum Turun

Apalagi, sempat muncul wacana menaikkan jumlah dana subsidi yang diterima klub. Kabarnya, setiap klub akan menerima dana subsidi sebesar Rp800 juta.

Dana segar ini tentu bisa mengangkat keuangan klub. Sebab, pemasukan dari penonton tak lagi bisa didapatkan klub. Mengingat pertandingan kemungkinan bakal dihelat tanpa penonton.

Dukung Laga Digelar Tanpa Penonton

Kondisi pandemi Covid-19 membuat laga tak mungkin dihadiri suporter. Sumardji pun juga mendukung rencana tersebut. Menurutnya, banyak daerah yang riskan terjadi penularan virus corona.

Sumardji juga menanyakan wacana lanjutan liga dipusatkan di Jawa. Sebab, justru Jawa saat ini menjadi episentrum penyebaran Covid-19. Dua provinsi dengan angka tertinggi kasus positif corona berada di Jawa. Keduanya adalah DKI Jakarta dan Jawa Timur.

“Ini sebenarnya keputusan yang sulit. Sebab, posisi PSSI merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah. Kalau kita lihat Jawa Timur, itu merupakan zona merah. Pertandingan bisa saja tetap digelar. Namun, itu harus pertandingan tanpa penonton,” ujar lelaki berusia 46 tahun tersebut.

Namun, PSSI masih belum mengambil keputusan resmi terkait kompetisi. Hingga detik ini, pihak federasi masih terus mengkaji berbagai permasalahan. Kabarnya, keputusan resmi baru akan diambil dalam rapat resmi anggota Exco. Rapat ini rencananya bakal digelar 13 Juni mendatang.

Bhayangkara FC Siap Tempur Meski Dana Sponsor Belum Turun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top